Komedian Narji Sukses Jadi Petani, Lahan 1.000 Hektare & Kembali ke Akar
Jangkauan Jakarta Batat – Komedian Narji Sukses terkenal, Narji Cagur, kini makin serius terjun ke pertanian. Ia memiliki lahan pertanian pribadi seluas ± 1.000 hektare yang tersebar di beberapa wilayah seperti Pekalongan, Parung, dan Pamulang.
Meski dulu dikenal lewat dunia lawak, Narji mengaku aktivitas bertani bukan sekadar hobi belaka, melainkan warisan dari keluarga: kakek dan ayahnya pernah memiliki sawah, dan ia belajar bercocok tanam sejak kecil.
Narji tak hanya menanam sayur dan tanaman pokok, tapi juga tanaman hias dan rempah. Ia bahkan punya kebun seluas ribuan meter di belakang rumahnya, di mana ia mulai dari yang sederhana: bayam, kangkung, hingga sereh.
Narji Sentil Pemerintah Soal Harga dan Distribusi: “Petani Harus Dihargai”
Narji menyuarakan bahwa salah satu tantangan utama petani adalah harga jual yang tidak stabil dan sering kali dihancurkan oleh rantai distribusi yang panjang. Dia menekankan pentingnya intervensi pemerintah agar rantai distribusi lebih pendek dan harga pasar yang adil. (Perlu klarifikasi kalau memang dia menyebut “sentilan” secara langsung, tapi isu tersebut muncul dalam wacana publik)
Ia mengatakan, misalnya, sayur atau hasil panen yang memerlukan perawatan khusus seperti cabai sering kali tidak dihargai sesuai usaha dan biaya produksinya, sementara petani kecil menanggung risiko besar jika panen gagal karena hama atau cuaca.
Menurut beberapa laporan, ia berharap pemerintah lebih proaktif dalam memberikan subsidi, fasilitas pasar lokal, atau kebijakan pengadaan hasil panen agar petani tak terus dirugikan oleh fluktuasi harga. (Ini muncul sebagai aspirasi dari Narji secara tidak langsung lewat wawancara media)
Baca Juga: Pramono Klaim Jalur Gratis Tol Fatmawati 2 Efektif Kurangi Macet TB Simatupang
Narji Jadi Petani, Inspirasi untuk Milenial: Bertani Kini Tak Sekadar Mata Pencaharian
Aktivitas pertanian Narji mendapat sambutan positif terutama dari kalangan milenial yang melihat bahwa bercocok tanam bisa jadi usaha produktif dan berdampak sosial. Ia mengajak generasi muda agar melihat pertanian bukan pekerjaan “kuno” tapi sebagai peluang usaha modern.
Lahan di belakang rumahnya seluas 2.500 meter² pernah menjadi kebun sayur dan tanaman obat‑obatan, yang juga hasilnya dibagikan kepada warga sekitar. Narji bahkan menjadikan lahan petani tetangga sebagai bagian dari kolaborasi.
Ia kerap menjadi tempat aduan masyarakat sekitar tentang masalah pertanian, seperti cuaca buruk, harga jual, atau permasalahan hama. Dalam beberapa wawancara, ia menyebut bahwa “darah petani” dalam dirinya muncul dari kecintaan terhadap tanah dan kebutuhan pangan rakyat.
Komedian Narji Sukses Ungkap Sulitnya Bertani, dari Cabai Gagal hingga Biaya Produksi Tinggi
Menanam cabai, misalnya, menjadi pengalaman yang ia sebut paling sulit. Banyak cabai yang layu, terserang hama, daun bolong, dan hasilnya tak selalu menguntungkan. Butuh perawatan khusus.
Tantangan lain adalah lamanya proses panen untuk tanaman tertentu seperti singkong (sekitar enam bulan) dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pupuk, perawatan, dan tenaga kerja lokal.
Ada juga tantangan non-teknis: akses pasar yang kadang sulit, harga kacau karena pihak perantara, dan ketergantungan pada kondisi alam. Semua ini membuat walaupun Narji punya lahan besar, risiko usaha tetap tinggi.
Kesuksesan Narji di Pertanian Tak Terlepas dari Peran Istri & Kakek
Narji mengatakan bahwa keputusan membeli tanah dan menggeluti pertanian tidak bisa dilepaskan dari usaha istri, Widiyanti. Istrinya yang rajin menabung membeli sawah-sawah di kampung sejak waktu yang lama. Lahan itu akhirnya membentuk basis pertanian yang sekarang dikelola Narji.
Ia juga belajar dari mertuanya yang lebih dulu ahli dalam bertani. Banyak teknik dan kebijakan kecil yang diadaptasi darinya.
Ketika pandemi, Narji menggunakan lahan “tidur” belakang rumahnya supaya produktif, agar tidak hanya menjadi lahan kosong saja. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan hari ini dibangun dari langkah-langkah kecil mulai dari hobi, ketertarikan pribadi, hingga investasi nyata.